M7 World Championship menjadi panggung besar bagi wakil Indonesia untuk kembali berburu gelar juara dunia MLBB. Di balik persiapan teknis dan strategi tim, motivasi personal para pemain juga menjadi bahan bakar penting menuju ambisi #Menu7uJuara. Dua nama yang mencuri perhatian adalah SANZ dari ONIC Esports dan Nino dari Alter Ego, yang sama-sama membawa motivasi kuat, meski bersumber dari perjalanan hidup yang berbeda.
Indonesia belum kembali mengangkat trofi juara dunia sejak M1 World Championship pada 2019. Kesempatan tampil sebagai tuan rumah di M7 pun menjadi momentum penting bagi ONIC Esports dan Alter Ego untuk memutus penantian panjang tersebut. Di tengah tekanan dan ekspektasi publik, kisah SANZ dan Nino memperlihatkan sisi lain perjuangan atlet esports di panggung dunia.
Keluarga, Bahan Bakar Kompetitif SANZ
SANZ menjadi salah satu pilar utama ONIC Esports yang konsisten tampil di M Series dalam beberapa edisi terakhir. Sejak membela ONIC di M3, midlaner bernama asli Gilang ini dikenal sebagai pemain dengan bara kompetitif tinggi, meski telah mengoleksi banyak gelar domestik dan internasional.
Motivasi terbesar SANZ datang dari keluarga. Ia menyebut keluarganya sebagai alasan utama untuk terus lapar akan kemenangan dan tidak cepat puas dengan pencapaian yang sudah diraih.
“Saya selalu ingat ‘saya datang ke Jakarta ini tujuannya untuk apa’. Jadi saya selalu teringat orang tua, bahwa saya ke Jakarta ini harus bawa hasil yang mewah lah buat keluarga. Ketika ingat keluarga, membuat saya ingin buktikan ke semua orang bahwa saya lebih baik dari siapa pun, bisa improve di setiap hari dan setiap turnamen, dan tidak cepat puas,” ucap SANZ.
“Jadi yang mendorong saya selama ini (untuk bisa) sampai di titik ini adalah keluarga sih, yang nomor satu. Setiap match yang saya mainkan, selalu saya dedikasikan untuk keluarga,” tuturnya.
SANZ merantau dari Makassar ke Jakarta pada usia 16 tahun dengan restu orang tua demi mengejar mimpi menjadi pemain profesional. Perjalanan tersebut tidak selalu mudah, namun perlahan ia tumbuh menjadi tulang punggung ONIC dan salah satu pemain Indonesia paling berpengalaman di level internasional.
Rekan setimnya, Kiboy, menilai SANZ sebagai sosok pekerja keras yang selalu menunjukkan ambisi besar.
“Bagi saya, Gilang (SANZ) itu pekerja keras banget dan konsisten dari dulu hingga sekarang. Terlihat jelas ambisi dia dari kerja keras itu, mungkin jika kita lihat momen ketika kalah, dia jadi salah satu orang yang terlihat sangat kesal. Karena dia berambisi ingin menang terus, jadi ketika kalah dia tidak bisa menyembuyikan itu, dari mimik wajah, gestur, dia terlihat sangat kesal dan ingin membalas,” ujar Kiboy.